Di ambang keputusasaan (despair)

Cerita ini bermula tiga bulan lalu. Saat itu aku “ditekan” oleh management untuk naik kapasitas, di sinilah aku mulai berada di ambang keputusasaan.

[Warning: TRIGGER CONTENT.] Pada ambang keputusasaan, di sinilah aku bercerita di detik-detik terakhir hidupku. Sebelum kukatakan: selamat tinggal dunia.



Inikah akhir dari paragraf?
Jika ya maka terima kasih atas waktu dan kesempatan Anda yang sia-sia. Terima kasih sudah mau membaca.


Tentu saja tidak bung!
Aku masih hidup dengan semangat yang baru, tanpa adanya keputusasaan. Aku hanya butuh istirahat sesaat untuk menyadari bahwa aku telah berusaha keras. Buktinya aku masih standby dan masih bertahan di sini.

Cerita ini bermula tiga bulan lalu, di saat aku sedang mendapatkan tekanan management. Saat aku “memegang” tugas dan tanggung jawab untuk naik kapasitas 6 batch per hari, di sinilah aku mulai berada di ambang keputusasaan.

Aku sempat berpikir, apa aku mati saja?
Rupanya tidak begitu caranya,
aku masih bisa hidup dan bergerak. Aku harus berjuang, aku harus menyelesaikan tugas ini sampai akhir.

Tidak tahu, akhir apa yang menantiku: apakah neraka panjang yang tak berkesudahan atau akhir yang bahagia. Yang jelas, aku harus berjuang hingga akhir.

Berjuang, bergulat, guling-gulingan, berperang, sampai aku mendapatkan hasilnya.

Kenaikan kapasitas: 6 batch diawali dari permintaan pasar, dan tugas dari manajemen. Kita harus bisa memenuhi kapasitas pasar. Kita masih harus berjuang untuk menurunkan biaya produksi sekaligus meningkatkan produktivitas dari pabrik tua ini.

Awalnya aku yakin, aku bisa, aku bisa, aku bisa.
Hingga di suatu titik kehidupan aku gagal.
Dan aku tidak mendapat apa yang aku harapkan.
Dan depresi adalah temanku.

Aku sampai tidak punya semangat untuk berjuang.
Dan aku kehilangan motivasi ke kantor.

Kegagalan adalah teman, sampai kamu terbiasa dengannya.
Dan kini, aku sedang membiasakan diriku.

Di sini, aku mengingat kembali tujuanku masuk perusahaan untuk apa. Untuk berdampak, untuk memberikan pengaruh, dan untuk menunjukkan eksistensi keberadaanku. Aku harus ada, aku harus bangkit, dan aku harus menunjukkan antusiasmeku.

Batch demi-batch berlalu.
Kecepatan produksi kami naikkan
Dari 1 jadi 3 batch.
3 batch jadi 4 batch
Kemudian 4 batch jadi 5 batch
Dan 5 batch jadi 6 batch.

Akhirnya kami menyentuh angka 6.
Dan 6 batch inilah yang yang menjadi angka kami idam-idamkan.

Walau setelah itu pabrik mengalami masalah, tetapi kami sudah menyentuh angka 6. Di sinilah kebangkitan produksi dimulai. Di mana teman-teman sudah mengetahui strategi produksi, dan kami menyelesaikan tugas kami.

Saat ini masalah masih tetap ada, dan saya sudah dimutasi ke Plant lain.
Saatnya saya meninggalkan sesuatu untuk tim produksi, yaitu SOP dan troubleshooting list.

Selama masalah masih ada, maka perang akan tetap ada.
Untuk menyelesaikan peperangan yang berikutnya, mari kita berjuang bersama.
Untuk keluar dari ambang keputusasaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *