Strategi Bikin Rencana Anti-gagal dan Anti-wacana

“Papah nanti tahun baru kita ke mana?” tanyaku kepada Papa yang baru saja pulang kerja.

“Kita ke pantai ya dek. Nanti disetirin sama kakak,” sahut ayahku sambil meletakkan tas kerjanya.

“Asyik, kita beneran ke pantai kan kak?” tanyaku dengan penuh harap kepada kakakku yang dari tadi memandang laptopnya.

“Iya dek, santai aja nanti kakak yang nyetir. Kita bawa ayam, sosis, bakso, dan marshmallow untuk variasi menu,” kata kakakku.

“Beneran lho kak. Males aku kalo kayak tahun lalu gak jadi pergi karena kakak sibuk. Males kalo cuma wacana terus”

“Enggak dek, beneran besok bisa berangkat” kata kakakku dengan wajah datarnya.

“Jangan lupa bawa jagung dan mentega untuk kita bakar. Nanti kita ajak Nia ya si tetangga kita,” sahut mama yang mengantarkan teh manis hangat ke ruang tamu.

“Asyiiikk,” pekikku riang. Aku tak menyangka keluargaku akhirnya pergi juga setelah sekian lama kami berencana dan hanya berwacana. Ini saatnya yang aku tunggu-tunggu.

Sampai akhirnya, rencana kami itu digagalkan. Kakakku mendapat informasi dari direktorat akademik jurusan bahwa ia harus mengumpulkan naskah Pendadaran nya karena dia akan sidang sebentar lagi. Tanggal 2 Januari adalah batas maksimum pengumpulan. Sementara pengumpulan di atas tanggal itu akan menyebabkan kakakku harus lulus 6 bulan lagi. Kami batal ke pantai karena kakakku harus menyelesaikan tugas utamanya, agar dapat lulus tepat waktu.

Tak disangka, ayahku tidak marah kepada kakak ataupun kesal. Ibuku juga tidak kesal. Mereka berdua mencarikan jalan terbaik dengan mengadakan acara bebakaran di belakang rumah. Kami tidak kehilangan semuanya, kami mendapatkan kebersamaan, bebakaran, suasana keluarga. Yang kami tidak dapatkan adalah pemandangan pantai di kala malam. Tetapi, bukankah itu artinya kita juga tidak mendapatkan lelah pasca bepergian?


Ingin bikin rencana anti gagal dan anti wacana seperti cerita di atas? Berikut cara-caranya:

#1. Menyusun Grand Plan

Saat ini, kita dapat membuat suatu grand plan dengan satu kalimat. Gunakanlah metode SMART yang telah disampaikan di artikel sebelumnya.

Jika aku mengambil sudut pandang seorang ayah, dari cerita di atas, maka grand plan nya adalah: Menghabiskan waktu bersama keluarga dan tetangga dengan acara bebakaran dan bincang santai.

Aku bisa menciptakan sejumlah opsi. Mau bebakaran di villa di puncak? Atau bebakaran di pantai? Atau di halaman belakang rumah? Atau, kita bisa membeli ayam bakar untuk dimakan bersama? Kemungkinan nya sangat banyak, tetapi fokuslah kepada tujuan awal.

Jika kita akan menerbitkan buku, cobalah ciptakan rencana spesifik. Misal : menerbitkan 1 buku dengan tema self-development di tahun 2023, tebal buku 200 halaman A5.

Kita bisa membuat tema khusus seperti “Cara Menjaga kestabilan Mood dalam Bekerja”, atau tema umum seperti “Mengenali diri”. Yang penting tema bukunya self-development. Sehingga kita tidak terbatas akan satu tema ketika kita menjumpai permasalahan.

#2. Singkronisasi grand plan hingga finalisasi rencana

Rencana besar yang sudah dibuat, kita finalisasi dengan memperhitungkan banyak pihak. Dalam konteks realisasi, kita dapat menyesuaikan aspek -aspek KUAT: Kemampuan, Uang, Alat, Tenaga.

  • Kemampuan: apakah kita bisa mencapai tujuan tersebut dengankemampuan yang kita miliki?
  • Uang: apakah dananya cukup?
  • Alat: apakah sarana prasarana nya menunjang
  • Tenaga: apakah jumlah manusia dan tenaga yang mengerjakan masih mencukupi?

Dalam cerita di atas, siapa yang menyetir mobil, bahan makanan apa yang mau dibakar sudah jelas, sehingga rencana bisa didekati ke arah realisasi.

Rencana-rencana bisa saja berubah, dimodifikasi, hingga sampai ke tahap final. Lalu bagaimana bila banyak ketidakidealan atau hal-hal tak terduga lainnya? Itu sebabnyakita bisa melakukan.

#3. Perbaikan Rencana

Bila realita tak seindah rencananya, saatnya kita lakukan perbaikan rencana. Kita bisa menggunakan skenario A, B, C untuk memudahkan kita menggapai realita. Dalam penyusunannya, rencana kita sebaiknya anti -gagal. Bagaimana caranya? Caranya dengan menciptakan worst case scenario atau kemungkinan terburuknya.

Memikirkan kemungkinan terburuk bukanlah suatu kekhawatiran akan masa depan yang tak berdasar. Melainkan suatu bentuk kesiapan akan hal buruk yang mungkin terjadi di depan.

Sehingga ketika hal buruk terjadi, kita benar-benar siap menghadapinya.

Dalam kasus di atas, si Ayah sudah berhasil menyiapkan rencana B ketika pergi ke pantainya gagal. Dan tibalah saatnya untuk …

#4. Eksekusi

Eksekusi, realisasi, tindakan, semuanya adalah usaha-usaha yang menghantar semua rencana-rencana kita kepada gerbang realita, bukan sekadar wacana-wacana ringan. Adapun eksekusi memerlukan usaha, komitmen, keyakinan, dan rasa tanggung jawab.

    Dalam kasus di atas, ayah merasa bertanggung jawab terhadap rencana keluarga dan tetangga jika batal. Maka dari itu, apapun kondisinya, rencana ayah tetap dilanjutkan. Dan semua orang bisa bahagia menjalaninya.


    Membuat rencana memang menyenangkan, tetapi jangan sampai semua rencana kita hancur dalam puing-puing wacana. Memiliki komitmen yang kuat, konsistensi, dan determinasi adalah upaya kita menuju realisasi rencana. Dengan demikian, kepuasan hati bisa lebih tercapai apabila satu-satu rencana jadi nyata.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *